Alasan Banyak Orang Tak Tertarik untuk Menikah

Pernikahan adalah harta yang sehat – demikianlah yang disuarakan oleh seorang dokter familiar di Inggris, William Farr, pada tahun 1858. Dia beranggapan bahwa orang yang sudah menikah cenderung mempunyai kesehatan yang lebih bagus daripada rekan-rekan mereka yang masih lajang. Namun, apakah pendapat ini masih relevan di era modern?

Selama beberapa dekade berikutnya, orang-orang terus berpolemik dengan sosiolog perihal apakah kesepian bisa menyebabkan penderitaan pada individu. Beberapa menganggap bahwa orang yang hidup sendiri tidak akan merasa sengsara, sementara yang lain percaya bahwa hubungan sosial yang kuat benar-benar penting untuk kesejahteraan seseorang.

Namun, pada tahun 2017, fakta-fakta sosiologis aneh mulai muncul dan membuka mata kita kepada alasan mengapa semakin sedikit orang yang berminat untuk menikah.

Berikut beberapa alasan mengapa semakin banyak orang yang memilih untuk hidup sendiri daripada menikah, seperti memberitakannya dari Your Tango, Pekan (12/5/2024).

1. Terikat dalam sebuah hubungan  sbobet bukan berarti mempunyai harga diri tinggi
Banyak orang percaya bahwa menjelang sebuah hubungan akan meningkatkan harga diri seseorang. Namun, penelitian menampakkan bahwa hal ini cuma berlaku kalau hubungan tersebut berfungsi dengan bagus, stabil, dan dipertahankan untuk bentang waktu tertentu.

Dalam hal ini, seseorang yang sukses mempertahankan hubungan cinta yang sehat dan harmonis akan merasa lebih percaya diri dan mempunyai harga diri yang tinggi.

Namun, tidak segala hubungan berakhir dengan hasil yang memuaskan. Ada banyak elemen yang bisa menyebabkan hubungan berakhir, seperti ketidakcocokan, perbedaan nilai-nilai, atau permasalahan komunikasi.

Orang yang mengalami kegagalan dalam mempertahankan hubungan selama setahun atau lebih justru bisa mengalami penurunan harga diri. Mereka mungkin merasa gagal atau tidak berharga karena tidak kapabel menjaga hubungan tersebut.

2. Pernikahan tidak akan meningkatkan kesehatan

Banyak orang beranggapan bahwa pernikahan bisa meningkatkan kesehatan seseorang. Dalam pandangan ini, suami dan istri saling memberikan dukungan dan mempertimbangkan bahwa pasangannya menuntaskan permasalahan kesehatan dengan ideal waktu.

Namun, tiga studi besar yang dilakukan pada tahun 2017 dengan metodologi yang kompleks menampakkan hasil yang bertentangan dengan gagasan ini.

Dalam penelitian tersebut, para dokter melakukan penilaian jasmaniah seperti ukuran pinggang, indeks massa tubuh, dan tekanan darah pada wanita. Mereka juga menanyakan perihal budaya merokok, minum, olahraga, dan pola makan.

Akibatnya mengagetkan, wanita yang sudah menikah cenderung mengalami kenaikan berat badan dan mengonsumsi lebih banyak alkohol daripada mereka yang masih lajang.

3. Cuma setengah dari sempurna penduduk yang berkeinginan menikah

Berdasarkan laporan Biro Sensus pada tahun 2017, jumlah orang dewasa lajang di Amerika Serikat menempuh rekor tertinggi. Lebih dari 110 juta penduduk Amerika dewasa dikala itu, bagus karena bercerai, menjanda, atau memilih untuk konsisten melajang.

Angka ini mencakup lebih dari 45 persen dari segala populasi Amerika yang berusia 18 tahun ke atas. Selain itu, usia rata-rata dikala menikah pertama kali juga mengalami peningkatan menjadi 29,5 tahun untuk pria dan 27,4 tahun untuk wanita.

Para ilmuwan memprediksi bahwa popularitas ini akan terus berlanjut di masa akan datang. Hidup sendiri semakin menjadi alternatif yang populer bagi banyak orang. Para sejarawan bahkan mencatat bahwa popularitas ini terjadi di lebih dari 78 negara di segala dunia dikala mengkaji data selama setengah abad terakhir.

Dengan tingkat kemauan untuk menikah yang cuma menempuh setengah dari sempurna populasi, fenomena ini menampakkan perubahan signifikan dalam pola hidup dan nilai-nilai sosial yang berkembang di masyarakat dikala ini.